GURU DULU DAN SEKARANG
GURU CILEUNGSI GURUKU
Menjadi guru ternyata menyenangkan, sebuah hal yang terkadang naik turun tergantung keadaan. Kurasakan profesi guru banyak tantangan, banyak pengalaman sekaligus banyak hiburan.
Mengapa demikian?
Karena aku mendapatkan banyak hal dari mengajar. Bukan semata materi, melainkan kesenangan diri. Ilmu yang semakin bertambah, gaji yang selalu naik (ehm-ehm...), waktu mengajar yang fleksibel, kemampuan mengembangkan diri yang cukup karena tersedianya waktu, dan juga terhubungkannya aku dengan banyak murid yang selalu memberikan banyak nuansa dan pengalaman serta pencerahan bagi diriku.
Tetapi, jangan dianggap enteng kerja seorang guru. Di balik terkesannya banyak waktu yang ia miliki, sesungguhnya pekerjaan guru tak mengenal waktu. Sebuah kebiasaan membawa pekerjaan ke rumah acap dilakukan oleh banyak guru. Mengoreksi hasil pekerjaan anak, menyusun perangkat pembelajaran, dan masih banyak yang lainnya.
Bagaimana tantangan yang dihadapi seorang guru, seiring dengan perkembangan jaman yang berimbas pada kemajuan ilmu dan teknologi? Apakah guru harus siap mengiringi, atau sebatas menatap saja tanpa usaha keras untuk turut menguasainya?
Sebenarnya, guru jaman sekarang memiliki banyak tantangan sekaligus peluang. Siapa pandai menangkap tantangan dan peluang itu, ia pula yang berhak mendapat kesempatan. Dan siapa saja yang statis dan tak mau kooperatif dengan perkembangan jaman, ia pula yang bakal terhempas dan terseok-seok dengan ketertinggalan. Ada banyak ruang dan waktu bagi guru untuk memperluas cakrawala ilmu, untuk mengembangkan diri, sekaligus memperoleh kemajuan diri.
Guru jaman sekarang dituntut memiliki kemampuan teknologi informasi, seiring kemajuan peradaban yang tak terbendung lagi. Jika jaman dulu seorang guru cukup menguasai ilmu yang berhubungan dengan disiplin ilmu yang ia ampu, maka guru sekarang dituntut menguasai ilmu secara global. Pun teknologi informasi yang memegang peran kuat dalam pengembangan diri, mutlak diperlukan oleh seorang guru, siapapun ia, mengajar apapun ia, dan dari sekolah manapun ia. Jika guru "mandeg" dan tak menyesuaikan diri, bisa dipastikan ia akan terlindas oleh kemajuan para siswa, yang notabene diakui memiliki kecepatan mentransfer dan menguasi teknologi informasi yang sangat tinggi. Jika guru jaman dulu hampir tak tersaingi oleh siswa dalam kecerdasan tertentu sehingga menempatkannya dalam zona aman dan nyaman, maka tidak demikian dengan guru jaman sekarang. Guru yang gaptek tak akan memiliki kontribusi lebih pada para siswa. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, seorang guru mesti memiliki kemauan atau "greget" untuk lebih mengembangkan diri.
Terlalu banyak perbedaan guru jaman dahulu dan sekarang. Jika guru jaman sekarang telah meningkat taraf kesejahteraannya, sebuah hal yang sangat berbeda dengan jaman guru dahulu, maka sudah sepantasnya etos kerja guru jaman sekarang tak kalah besar denga etos kerja guru jaman dahulu. Lihatlah para orang tua kita yang berprofesi sebagai guru, lihatlah bekas guru-guru kita di masa lalu yang begitu lekat denga sebutan "Umar Bakri", mereka memiliki semangat, daya juang dan tanggung jawab mengajar yang sangat tinggi.
Jika mereka, para guru kita, mampu menciptakan kecerdasan di tengah keterbatasan, bagaimana dengan kita para guru muda? Sudahkah dengan kemajuan IT yang kita kuasai, berimbas pada semangat dan etos kerja yang lebih tinggi daripada mereka? Sudahkah kita memiliki sikap yang sama seperti mereka, semata-mata ingin mencerdaskan kehidupan bangsa?
Terlalu banyak tantangan bagi guru jaman sekarang. Tantangan perkembangan jaman, teknologi informasi, ilmu pengetahuan dan yang tak kalah menariknya, kehidupan yang cenderung mengacu pada hedonisme yang kerap menggoda "iman" para guru. Selalu ada godaan di setiap pengabdian, selalu ada tantangan di balik perjuangan.
Masih banyak perbandingan yang bisa dikupas antara guru jaman dahulu dan guru jaman sekarang. Tetapi semuanya bermuara pada satu tujuan; mengabdi pada bangsa, mencerdaskan para anak bangsa.
Semoga tercapai cita-cita mulia para guru kita, para pahlawan tanpa tanda jasa, tapi pahlawan penuh tanda tanya, sekaligus pahlawan penuh tanda tangan....
(Hm, bagiamana tak penuh tanda tanya, kalau etos kerja guru biasa-biasa saja, dan bagaimana tak penuh tanda tangan, kalau hampir semua waktu guru disibukkan dengan memberi nilai dan tanda tangan pada setiap lembar ujian?).
Itulah fakta, dan marilah kita mengejar ketertinggalan, meraih banyak kemajuan, demi mencerdaskan anak bangsa, demi memajukan bangsa......***
Cileungsi, September 2009-