UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG RAHASIA
FAKULTAS PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI
LAPORAN KULIAH KERJA PEMINATAN PSIKOLOGI
SKIZOTIPAL
SKIZOTIPAL
Disusun dalam Rangka Memenuhi Tugas Kuliah Kerja Peminatan Psikologi
Semester Ganjil Tahun Akedemik 2009-2010
Semester Ganjil Tahun Akedemik 2009-2010
Dosen Pembimbing :
Eni Nugrahawati Dra, Mpd
Endah Nawangsih Dra, Msi
Oleh :
Nadya Shabrina
10050006001
Eni Nugrahawati Dra, Mpd
Endah Nawangsih Dra, Msi
Oleh :
Nadya Shabrina
10050006001
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
FAKULTAS PSIKOLOGI
2009
I. IDENTITAS SUBJEK
Nama : R. A. G. A
Jenis kelamin : Laki-laki
Tempat dan Tanggal lahir : Bandung, 17 January 1988
Suku Bangsa : Sunda
Agama : Islam
Pendidikan : Mahasiswa sem. 7 Ilmu Pemerintahan UNPAD
Alamat : Komp. K, C
Nama Ayah : H. I I (alm)
Usia Ayah :
Suku Bangsa : Sunda
Pendidikan Terakhir : S2 (Management UNPAD)
Pekerjaan : Direktur PT. Olympic
Alamat :
Nama Ibu : L P R
Usia Ibu : 47
Suku Bangsa : Sunda
Pendidikan Terakhir : S1 ( Hukum UNPAR)
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Komp. F R, C
II. IDENTITAS PEMERIKSA
Nama : Nadya Shabrina
NPM : 10050006001
Tujuan Pemeriksaan : Evaluasi Kepribadian
Tanggal Pemeriksaan : 9 Januari 2010 – 12 Januari 2010
Tempat pemeriksaan : Rumah Tester
III. STATUS PRAESSENS
S memiliki tinggi badan 168 cm dan berat badan 62 kg dan berkulit putih. Saat pertama melakukan pemeriksaan S menggunakan celana jeans berwarna coklat muda dan menggunakan ‘sweter’ rajut berwarna merah dan mngenakan jaket lagi berwarna merah. S menggunakan sepatu putih bertali dan membawa tas ransel berwarna hitam. S memiliki rambut bergelombang yang dibiarkan berantakan dan memiliki jambang yang bersatu dengan janggut. Kesan yang di dapat dari S, S adalah seorang yang memperhatikan penampilan.
IV. OBSERVASI
4.1 OBSERVASI UMUM
Selama pengetesan dan anamnesa S selalu menggerakan kakinya dan sesekali merokok.
4.2 OBSERVASI KHUSUS
4.2.1. RH Klinis
Ketika mengisi RH klinis S tidak banyak berbicara. S hanya mengisi RH tersebut sambil merokok. S mengisi lembar RH dengan serius terlihat dari S menundukan kepala ketika mengisi dan dahi S berkerut sesekali.
4.2.2. BAUM
S menggambar garis horozontal dan vertikal ketika memulai menggambar, lalu berkata pada tester sambil tertawa “ini biar simetris gambarnya”. Setelah menarik garis tersebut S menggambar batang dan kemudian menggambar mahkota yang berbentuk setengah lingkaran. S menggambar dahan-dahan di dalam mahkota tersebut dan didahannya ditambahkan beberapa daun setelah itu S menggambar lingkaran seperti “lubang” ditengah batang pohon. Dan yang terakhhir S menambahkan “shading” di mahkota dan batang yang digambarnya setelah itu menarik garis lurus dibawah akar.
4.2.2. DAM
Gambar pertama yang digambar S adalah seorang laki-laki yang sedang membuka kedua tangannya ke atas dan membuka kedua kakinya lebar. Pada gambar ini juga S menarik garis vertikal dan horizontal seperti yang dilakukannya ketika menggambar BAUM. S tidak banyak berbicara ketika sedang menggambar. Setelah menarik garis lurus vertika dan horizintal, S menggambar muka, lalu badan. Tangan dan kemudian kakinya. S juga menambahkan dada yang bidang dan yang terakhir S menggambar sepatu. Setelah itu memberi keterangan “ bang aldy, lagi berekspresi dan umurnya 29 tahun”
Gambar kedua S menggambar wanita dalam bentuk profile dan wanita yang digambar S tidak mengenakan pakaian. Dalam gambar ini S memberi garis horizintal. S memberi keterangan “Tina Arena, 30 tahun sedang menari.
4.2.3. ANAMNESA
Ketika anamnesa tentang orang tua S menjawab dengan mimik muka yang serius sehingga membuat dahinya berkerut. Banyak pertanyaan tester yang tidak dijawab S dengan benar ketika ditanya tentang relasi sosialnya S menjawab sambil tertawa lalu menjawab hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan pertanyaan yang diajukan tester.
V. ETILOGI GANGGUAN
Keluhan yang dialami S :
1. Perasaan ingin bunuh diri yang dirasakan S sejak S masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
2. Menaruh rasa curiga kepada orang lain dan susah memepercayai orang
3. Pelupa
4. Sulit berkonsentrasi
5. Merasakan gangguan pada perut ketika banyak masalah
6. Merasa seperti ada yang ingin membunuh dirinya
S berasal dari keluarga yang “broken home”, orang tua S bercerai ketika S masih SD. S selalu melihat ayah dan ibunya bertengkar. Ketika itu S SMP, S merasa dirinya ingin bunuh diri. Namun keinginan untuk bunuh dirinya hilang ketika S mengingat Allah. S mengaku imannya lah yang menahan S untuk bunuh diri. S merasa benci diri sendiri karena S menganut prinsip Kurt Cobain “i hate my self and i want to die”, tapi setelah mendapat pencerahan dari meditasi dirinya yang bilang “ Allah tidak akan meninggalkan umatnya”
Perasaan ingin bunuh diri itu timbul waktu S memikirkan masalah dan tidak menemukan jalan keluarnya. Ketika ditanya masalah apa yang bisa membuat S seperti itu, S menjawab “ masalah diluar jangkauan, saya ga bisa mengendalikan diri sendiri, diluar logika kayanya bercampur dengan halusinasi.” Dan ketika ditanya halusinasi seperti apa yang dirasakan S, S menjawab “ seperti semuanya benda-benda di sekitar saya menghimpit saya, kadang ngerasa kalau bangun dari tidur saya merasa ada 2 orang, jadi pikiran itu lepas dari badan saya.”
S merasa dirinya dipengaruhi oleh hal-hal yang “ghaib”, S merasa dirinya bisa meramal dan bisa melihat masa depan. Ketika ditanya tentang hal-hal ghaib oleh tester, S menjawab “ saya ini bisa melihat sesuatu yang ga bisa dilihat sama orang lain secara umumnya, titisan dari nenek. Saya suka meditasi di atas genteng di kosan saya mencari ilham.” “ Saya ngerasa saya ini anak indigo”. Ketika ditanya meditasi apa yang dilakukan, S menjawab “ membakar dupa, olah nafas dan melakukan dzikir”
Ibu S di diagnosa oleh dokter menderita skizofrenia, sehingga S sudah susah berkomunikasi dengan ibunya. Ibu S sudah ditangani oleh seorang psikiater. Ibu S sempat masuk Rumah Sakit dalam penanganan penyakit yang dideritanya. Menurut S ibunya sempat sembuh dan berkerja dengan normal di Pekanbaru, tapi apabila ibunya kembali ke Bandung dekat dengan neneknya penyakit ibunya kambuh. S mengaku ibunya sempat tidak mengenali S.
Belakangan ini S selalu menaruh curiga kepada orang lain dan susah untuk mempercayai orang lain karena menurutnya orang itu akan membunuhnya atau akan menikamnya dari belakang. S berkata “ ya sama, sama apa yang dirasain ibu, saya juga ngerasain, kalau saya sudah merasakan hal tersebut saya lebih baik tidur, tidur itu untuk meghilangkan perasaan tesebut jadi yang deoy tahu aja , saya kan bisa tidur seharian penuh apalagi kalau ada masalah jadi tidur itu pelarian saya.”
S merasa dirinya sering lupa, S selalu lupa jadwal kuliahnya sehingga sering tidak masuk kuliah atau terlambat. Bahkan jalan yang sudah dilewati beberapa kali pun S sering lupa, S sering sekali salah jalan, S bercerita “ waktu itu saya kan mau ke Bogor eh malah nyasar ke Sukabumi, hampir Pangandaran hehehe.” Terkadang jalan pulang kerumahnya saja dari kampusnya S berputar-putar dan sering sekali salah jalan.
S mengeluh dirinya sering sakit perut, ketika ditanya sakit perut sperti apa S menjawab “ sakit perut ya melilit sakit banget, tapi anehnya itu buat saya jadi semangat.” Ketika ditanya lebih lanjut mengapa menjadi semangat S menjawab “semakin saya merasa sakit timbul sesuatu dalam diri saya untuk melakukan atau mengerjakan sesuatu, contohnya kalau lagi ngerjain tugas terus saya sakit perut saya semangat ngerjain tugasnya”.
S merasa cemas, karena perasaan dikerjar dosa dan cemas akan masa depan. Dosa yang S maksud adalah dosa akan masa kecil, S sering sekali membunuh binatang dan menyiksa anak kecil, berzinah, minum-minum alkohol dan sempat memakai narkoba. Cemas akan masa depan adalah cemas akan nasibnya kedepan apakah nasibnya akan sama dengan orang tua atau tidak .
VI. ANAMNESA
Posisi dalam keluarga :
1. S
2. P, 19 tahun, mahasiswa sem. 3 Fakultas Ekonomi Pembangunan UNPAD
3. L, 5 tahun, play group (adik tiri satu ayah lain ibu)
• Ayah.
Menurut S ayahnya adalah seorang yang bijaksana dan humoris. Ayah S semasa hidupnya mudah akrab dengan orang lain. Menurut S dimana ada ayahnya suasana pasti akan ramai dan seru. Ayahnya mempunyai hoby yang bernyanyi sama seperti S. Menurut S bakat yang dimilikinya dalam bernusik diturunkan oleh ayahnya. S mengaku tidak pernah dimarahi oleh ayahnya apabila S berbuat kesalahan yang dimarahi adalah ibunya. Ayah S tidak pernah membuat aturan. Namun semua keputusan ada ditangan ayah S.
Ayah S meninggal tahun 2006, ketika ayahnya meningga S merasakan down dan kecewa oleh keadaan. Lalu S mengatakan “kenapa harus terjadi aku tak percaya engkau telah tiada”. Setelah ayah S meninggal S merasa banyak sekali masalah di dalam keluarganya.
• Ibu
Ibu dimata S adalah seorang yang religius, pendiam, hanya berbicara ketika diperlukan seperti ada perasaan tertekan dalam dirinya yang membuat ibu S merasa cemas. Ibu S seorang yang royal mudah sekali memberi tanpa menita balasan Menurut S, ibunya merasa cemas karena ada yang ingin membunuhnya dengan membawa salib. Ibu S orang yang eksentrik, pakaiannya selalu lain dari yang lain dulu smepat berkerudung lalu melepas kerudung dan memakai baju sexy, lalu sekarang berkerudung kembali. Ibu S paling tidak bisa diajak berdebat keyakinannya tidak bisa diganggu gugat. Dulu ibunya yang membuat aturan dirumah, tetapi aturan itu hanya untuk ayah S tidak untuk S dan adiknya. Aturannya jam malam untuk ayah S.
Menurut S tentang penyakit yang diderita ibunya itu sudah ada sebelum menikah dengan ayah S. Karena faktor keturunan. S berkata buyutnya itu memiliki sakit yang sama dengan ibunya dan ada kakak perempuan ibu S yang pertama juga di diagnosa sakit yang sama seperti ibunya.
S merasa dekat dengan ibunya, ibu selalu perhatian walaupun tidak banyak berkomunikasi dan membuat anak-anaknya merasa aman. Semenjak ibunya sakit ibu S sering berdiam diri, tidak ada kerjaan dan sudah mulai menjauhkan diri dari orang lain. Menurut S “ yang anehnya setiap ibu ke bandung, ibu tuh selalu kambuh sakitnya, karena deket ma ninah kayanya.”
• Relasi antara ayah dan ibu
Keduanya saling mengurus , S bilang “ ibu mengurus bapa karena bapa sakit ginjal , dan bapa mengurus ibu karena sakit kejiwaannya”. Ibu S yang menggugat cerai ayah S karena ayah S selalu melanggar peraturan yang di buat ibu pada tahun 1994 lalu kembali rujuk pada tahun 2000. Kemudian tahun 2002 ayah S mengguggat cerai ibu S karena tidak bisa menerima ibu S yang tidak kunjung sembuh dan ayah S mulai selingkuh. Semenjak Ayah S menggugat cerai sakit yang di derita ibu semakin parah.
Keduanya sering kali berselisih paham di depan S dan adiknya. Ayah S pernah mencekik leher ibunya dan mendorong badan ibunya ke tembok di depan S dan adiknya. Namun ibu S tidak pernah melawan hanya menangis sendirian dan berdoa saja. Ketika ditanya perasaan S ketika orang tuanya bercerai S mengaku sangat sedih tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
• Keadaan S setelah orang tua S bercerai
Kedua orang tua S bercerai ketika S masih SD, menurut S orang tuanya sering sekali bertengkar di depan S dan adik kandungnya. Ketika orang tuanya bercerai S sempat tinggal hanya dengan ibu dan adik perempuannya. Lalu S sempat tinggal di Pekanbaru tinggal bersama kakak perempuan ibunya yang seorang psikolog karena waktu itu ibunya memerlukan perawatan disana. S juga sempat tinggal dengan kakak laki-laki ibunya di daerah Cianjur ketika S masih SD dan setelah itu S kembali tinggal di Bandung tinggal bertiga dengan ibu dan adiknya dirumah yang diberikan oleh nenek S.
Ketika S masuk SMA di Bogor, S tinggal dengan ayahnya dan ibu tirinya. Ibu tiri S. Ketika menikah dengan ayah S, ibu tirinya sudah memiliki seorang anak perempuan dan S juga memiliki seorang adik laki-laki. Ketika tinggal bersama denga ayah dan ibu tirinya S mengaku tidak betah, S banyak menghabiskan waktu di luar rumah dan pulang kerumah hampir larut malam, tetapi Ayah S tidak pernah memarahi S.
Setelah ayah S meninggal S tinggal di kosan di Jatinangor. S dan adiknya diasuh oleh kakek dan nenek dari keluarga ayahnya. Yang membiayai hidupnya sekarang adalah nenek S. S mengaku hidupnya nomaden, “ kadang di rumah nenek, di rumah opah, dirumah sodara juga sering”.
• Riwayat Pendidikan
S masuk SD usia 5 tahun, S sempat tidak naik kelas karena S membuang raportnya ke sawah dan S memandikan anak guru dengan detergen sehingga S di keluarkan dan akhirnya S pindah sekolah dan masuk SD usia 6 tahun. Saat SD S beberapa kali pindah sekolah, S sempat sekolah di Bekasi, Pekanbaru, dan Cianjur lalu kembali ke Bandung kelas 3 SD di SD.N Merdeka 5 sampai S lulus SD. S lulus SD dengan nem yang baik sehingga S bisa masuk di salah satu SMP negeri favorit di Bandung. Kemudian ketika masuk SMA, S sempat masuk SMA swasta selama 1 semester di Bandung karena Nemnya kurang. Kemudian S pindah ke Bogor karena tinggal dengan ayah dan ibu tirinya dan bersekolah di salah satu SMA favorit di Bogor ditengah semester 2. S mengambil jrusan IPS. Dari dulu s memiliki kemahiran dalam pelajaran Bahasa Inggris.
Sekarang S kuliah di Universitas Padjadjaran (UNPAD) fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, S masuk melalui jalur SMUP. S mengaku S masuk kuliah disana karena S memiliki ketertarikan pada ilmu pemerintahan dikarenakan nenek S seorang pejabat pemerintahan (Bupati). S mengaku kuliahnya tidak berjalan lancar karena S banyak tidak kuliah karena S sering terlambat dan lupa jadwal kuliah. IPK S sekarang 2,11. Namun sekarang S sedang berusaha memperbaiki nilainya.
• Riwayat Pekerjaan
S sempat bekerja menjadi Leader officer pada PT. Djarum dalam suatu acara. Acara tersebut adalah lomba main games se-Jatinangor. Menurut S acara berjalan dengan baik sehingga S ditawarkan menjadi pekerja tetap. Sekarang S berkerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang enterpreuner (DBS), S baru saja memulai berkerja pada perusahaan ini.
• Aspek Dorongan dan Emosi
Hal yang membuat S senang adalah ketika S merasa dicintai, merasa diperhatikan, merasa dimengerti, jika S sedang senang S akan berteriak dan bernyanyi. Hal yang membuat S sedih ketika S diatur oleh orang lain, diacuhkan dan dibenci oleh orang lain, jika S sedang sedih S akan mengurung diri di kamar dan meditasi. Ketika ditanya hal yang membuat S kecewa S menjawab “ yaa waktu kalah, ngerasa di buang kaya diputusin ters remove atau ignorance”, S tidak bisa menrima keadaab ini, maka S akan marah Ketika ditanya hal yang membuat S marah, S menjawab “ketidakadilan, jadi yang kuat menekan yang lemah”. Jika sedang marah S akan mengahancurkan barang dan menghancurkan diri sendiri seperti meminum obat melebihi dosis yang ditentukan.
S memiliki cita-cita ingin cepat lulus sarjana karena untuk mempercepat karir dan S memiliki mimpi-mimpi yang harus diwujudkan. Jangka panjangnya S ingin membuat perusahaan S menjawab “ karena saya adalah pewaris tunggal dari nenek saya akan membangun perusahaan baru karena tidak memungkinan membuat pemerintahan baru”.
• Relasi Sosial
S mengaku memilki banyak teman ketika ditanya berapa jumlahnya S menjawab “ lebih dari 100 orang”. S berkata ‘tidak kawan dan lawan yang abadi “ teman-teman yanng banyak itu hanya sekedar teman tidak dekat. Menurut S, S memiliki seorang teman dekat yang sudah berteman dengannya waktu S mulai kuliah yang membuat S dekat dengan temannya. Alasannya adalah temannya selalu membuatnya bahagia. Karena S dapat melepaskan semua unek-unek dihati dan S bisa menjadi diri sendiri ketika bersama teman-teman.
S sekarang memiliki seorang teman dekat, S merasa hubungannya sedang hangat-hangatnya. S merasa hubungan yang sekarang adanya saling mengerti dan setiap masalah dapat diatasi dengan mudah. S mengaku bahwa S belum bisa melupakan mantan pacarnya karena S masih ingin melunasi janji-janji S bersama dengan mantannya. Ketika ditanya kenapa sekarang berpacaran dengan pacarnya yang sekarang S menjawab “saya cinta dia karena akhlaknya, sedangkan dengan mantan saya merasa dekat sekali sudah merasa seperti bagian dari hidup”.
• Hetero Anamnesa
(sepupu S)
S anak yang periang, bisa dikatakan S seorang yang sangat menghibur. Sehingga jika tidak ada S ketika sedang kumpul keluarga seperti ada yang kurang. S bisa menghibur karena tingkah laku S cukup tidak wajar dan S selalu mau di suruh melakukan “hal yang aneh-aneh” contohnya S pernah memakan cicak hidup. Jika S berpakaian kadang-kadang suka seenaknya, apa saja yang bisa dipakai, S pakai. Bisa dikatakan S orang yang eksentrik. S juga suka sekali tiba-tiba menghilang tanpa pamit jika sedang berkumpul dengan keluarga. Dulu S pernah mneyemn kucing dan setelah semennya mengering S melempar sehigga tubuh kucing itu berantakan. S sewaktu kecil suka menyiksa binatang.
S orang yang pintar, mudah sekali mengingat apa yang sudah S terima contohnya pelajaran. Terkadang S sulit diajak bicara karena jika ditanya S tidak pernah menjawab dengan benar. Menurut sepupunya S selalu salah menerima maksud dan omongan dirinya “ga nyambung”. S juga penah “mengadu domba” semua sepupunya sehingga bertengkar. S juga bukan orang yang bertanggung jawab, semua barang yang dimilkinya tidak pernah dirawat dengan baik dan S juga orang yang teledor sering sekali kehilangan handphone.
Menurut sepupunya S anak yang rajin beribadah S, setahu sepupu S, S tidak pernah meninggalkan solat. S bisa meramal terkadang ramalan yang diberikan S benar.
.
VII. KESIMPULAN SEMENTARA
S dididik dalam keluarga yang tidak mempunyai aturan sehingga membuat S tidak mengetahui apa yang benar dan apa yang salah. S juga menjadi tidak disiplin dan tidak bisa bertanggung jawab. S menjadi orang yang egosentris. S kurang dapat perhatian dari keluarganya sehingga membuat tingkah laku S yang “aneh” untuk menarik perhatian dari banyak orang.
S seorang yang mudah tergugah secara emosi, dan S selalu mengekspresikan dengan cara yang berlebihan karena tidak tidak adanya pembelajaran yang baik. S sempat ingin bunuh diri karena perasaan tertekannya yang tidak S keluarkan secara asertif. S sebenarnya memiliki keinginan yang tinggi namun kurang dibarengi dengan usaha yang maksimal.
VIII. TEORI
A. PENGERTIAN SKIZOFRENIA
Skizofrenia merupakan suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab dan perjalanan penyakit yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, dan sosial budaya (Rusdi Maslim, 2000 : 46). Skizofrenia merupakan suatu gangguan psikotik yangg kronik, sering mereda, namun hilang timbul dengan manifestasi klinis yang amat luas variasinya (Kaplan 2000 : 407). Menurut Eugen Bleuler (Maramis, 1998 : 217) Skizofrenia adalah suatu gambaran jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan atau disharmoni antara proses pikir, perasaan dan perbuatan.
Dari ketiga pengertian diatas, penulis menyimpulkan bahwa skizofrenia merupakan suatu gambaran sindrom dengan berbagai macam penyebab dan perjalanan yang banyak dan beragam, dimana terjadi keretakan jiwa atau ketidak harmonisan dan ketidaksesuaian antara proses pikir, perasaan dan perbuatan serta hilang timbul dengan manisfestasi klinis yang beragam.
Skizofrenia merupakan penyakit otak yang timbul akibat ketidakseimbangan pada dopamine, yaitu salah satu sel kimia dalam otak. Ia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra).
Skizofrenia bisa mengenai siapa saja. Data American Psychiatric Association (APA) tahun 1995 menyebutkan 1% populasi penduduk dunia menderita skizofrenia. 75% Penderita skizofrenia mulai mengidapnya pada usia 16-25 tahun. Usia remaja dan dewasa muda memang berisiko tinggi karena tahap kehidupan ini penuh stresor. Kondisi penderita sering terlambat disadari keluarga dan lingkungannya karena dianggap sebagai bagian dari tahap penyesuaian diri.
Gejala-gejala skizofrenia pada umumnya bisa dibagi menjadi dua kelas:
1. Gejala-gejala Positif
Termasuk halusinasi, delusi, gangguan pemikiran (kognitif). Gejala-gejala ini disebut positif karena merupakan manifestasi jelas yang dapat diamati oleh orang lain.
2. Gejala-gejala Negatif
Gejala-gejala yang dimaksud disebut negatif karena merupakan kehilangan dari ciri khas atau fungsi normal seseorang. Termasuk kurang atau tidak mampu menampakkan/mengekspresika
Menurut Bleurer, gejala skizofrenia dibagi dua, yaitu :
a. Gejala primer
1) Gangguan proses pikir (bentuk, langkah, dan isi pikir)
Pada skizofrenia inti ganguan memang terdapat pada proses pikiran.
2) Gangguan afek dan emosi
Parathimi : apa yang seharusnya menimbulkan rasa senang dan gembira, pada penderita timbul rasa sedih atau marah. Paramimi : penderita merasa senang dan gembira, akan tetapi ia menangis.
3) Gangguan kemauan
Banyak penderita dengan skizofrenia mempunyai kelemahan kemauan. mereka tidak mengambil keputusan, tidak dapat bertindak dalam suatu keadaan.
• Negativisme : sikap atau perbuatan yang negatif atau berlawanan terhadap suatu permintaan
• Ambivalensi kemauan : menghendaki 2 hal yang berlawanan pada waktu yang sama.
• Otomatisme : penderita merasa kemauannya dipengaruhi oleh orang lain atau oleh tenaga dari luar, sehingga ia melakukan sesuatu secara otomatis.
4) Gejala psiomotor / gejala katatonik gangguan perbuatan
Disebut juga dengan gejala-gejala katatonik. Sebetulnya gejala katatonik sering mencerminkan ganguan kemauan. Bila gangguan hanya ringan saja, maka dapat dilihat gerakan-gerakan yang kurang luwes atau agak kaku.
b. Gejala sekunder
1) Waham
Pada skizofrenia waham sering tidak logis sama sekali dan sangat bizar. Tetapi penderita tidak menginsafi hal ini dan untuk dia wahamnya merupakan fakta dan tidak dapat diubah oleh siapapun.
2) Halusinasi
Pada skizofrenia, halusinasi timbul tanpa penurunan kesadaran dan hal in merupakan suatu gejala yang hampir tidak dijumpai pada keadaan lain.
Etiologi
Dengan beragamnya presentasi gejala dan prognostik, maka tidak ada faktor etiologi yang dianggap kausatif. Oleh karena itu terdapat berbagai penyebab, antara lain :
a. Model Diatesis Stress
Merupakan model yang sering di gunakan. Model ini mengemukakan bahwa seseorang mungkin memiliki suatu kerentanan spesifik (diatesis). Apabila hal tersebut dipengaruhi oleh stressor baik biologis, genetik, psikososial, dan lingkungan akan menimbulkan perkembangan gejala skizofrenia.
b. Faktor Biologis
Area otak utama yang terlibat dalam skizofrenia adalah sistem limbik, ganglia basalis, lobus frontalis. Sistem limbik berfungsi mengendalikan emosi. Pada skizofrenia terjadi penurunan daerah amigdala, hipokampus dan girus parahipokampus. Jika fungsi ini terganggu maka akan menimbulkan gejala skizofrenia yaitu terjadi gangguan emosi. Ganglia basalis berkaitan dengan pengendali pergerakan. Pada pasien dengan gejala skizofrenia memperlihatkan pergerakan yang aneh, seperti gaya berjalan yang kaku, menyeringaikan wajah dan stereotipik. Selain itu ganglia basalis berhubungan timbal balik dengan lobus frontalis sehingga jika terjadi kelainan pada area lobus frontalis maka akan mempengaruhi fungsi ganglia basalis.
c. Genetik
Telah banyak penelitian yang memastikan bahwa pengarus genetik sanat besar pada pasien skizofrenia. Kembar monozigot memiliki angka kesesuaian yang tertinggi. Penelitian yang mutakhir telah menemukan bahwa pertanda kromosom yang berhubungan dengan skizofrenia adalah kromosom 5,11 dan 18 pada bagian lengan panjang dan kromosom 19 pada bagian lengan pendek, dan yang paling sering dilaporkan adalah terjadi pada kromosom X. Pada skizofrenia kromososm-kromosom ini mengalami kelainan yaitu saat mengkode dapat terjadi kekacauan seprti translokasi.
Penyimpangan proses pikir, persepsi, dan perilaku ini dipercaya akibat dari ketidakseimbangan neurokimia di otak yang sangat mungkin terjadi karena penyimpangan genetik. Petunjuk adanya peran genetik pertama kali didapat dari penelitian keluarga. Jumlah penderita dalam keluarga lebih banyak dibandingkan dengan penderita pada populasi umum. Satu dari 100 orang dalam populasi umum pernah menderita skizofrenia dalam periode hidupnya, sementara dari 100 saudara kandung penderita dijumpai 13 orang juga skizofrenia.
Bagaimana dengan keponakan? Dari penelitian "epidemiologi keluarga" terlihat bahwa risiko untuk keponakan adalah 3 persen, masih lebih tinggi dari populasi normal yang hanya 1 persen. Dengan demikian, kemungkinan anak tumbuh sehat adalah 97 persen. Semakin dekat hubungan keluarga biologis, semakin tinggi risiko terkena skizofrenia
Hubungan antara gen dan skizofrenia lebih kompleks dari yang diperkirakan. Kini, meski telah puluhan tahun, ada keyakinan tentang faktor etiologi genetik pada skizofrenia dan telah ribuan penelitian dilakukan, gen utama yang berhubungan langsung dengan skizofrenia tidak berhasil diidentifikasi. Penemuan-penemuan sporadik sering bermunculan, tetapi tidak berhasil dibuktikan ulang.
Kini sangat dipercaya, seperti penyakit kompleks lainnya (diabetus melitus, asma, dan kanker) pada skizofrenia terdapat lebih dari satu gen yang berperan. Namun, tidak ada yang bisa memastikan jumlahnya. Dari sekitar 30.000 gen yang berhubungan dengan reseptor di otak, seluruhnya bisa menjadi kandidat gen skizofrenia!
Selain itu, dipercaya bahwa gen bukanlah satu-satunya penyebab. Faktor lingkungan bisa mempengaruhi perkembangan otak individu sejak bayi hingga dewasa muda, karenanya bisa sangat berperan dalam tiap kasus skizofrenia. Misalnya, infeksi virus selama kehamilan, trauma persalinan, trauma psikologis saat tumbuh kembang, atau faktor penyalahgunaan zat pada remaja. Karena itu, faktor lingkungan tetap diperhitungkan dalam etiologi skizofrenia.
Teori yang dipercaya saat ini adalah adanya perbedaan peranan gen pada tiap penderita. Seorang yang memiliki faktor genetika kuat bisa menderita skizofrenia tanpa perlu faktor lingkungan. Adapun seorang dengan faktor genetika yang tidak terlalu kuat memerlukan tambahan faktor-faktor lingkungan untuk mencetuskan gangguan.
Teori di atas didukung dengan adanya variasi manifestasi gejala klinik yang luas. Penderita gangguan ini ada yang dapat hidup normal seperti biasa, tanpa pengurangan fungsi sosialnya, dan ada yang sangat berat sehingga memerlukan perawatan psikiatri yang terus-menerus.
d. Faktor Psikososial
1) Teori Psikoanalitik
Teori psikoanalitik mengemukakan bahwa gejala skizofrenia mempunyai arti simbolik bagi pasien individual. Misalnya, fantasi tentang dunia akan berakhir mungkin menyatakan suatu perasaan bahwa dunia internal seseorang telah mengalami kerusakan. Perasaan kebesaran dapat mencerminkan narsisme yang direaktivasi dimana orang percaya bahw amereka adalah maha kuasa.
2) Teori Psikodinamik
Dasar dari teori dinamia adalah untuk mengerti dinamika pasien dan untuk mengerti makna simbolik dari gejala. Teori ini menganggap bahwa hipersensitivitas terhadap stimuli persepsi yang didasarkansecara kontitusional sebagai suatu defisit. Pendekatan psikodinamika berdasar bahwa gejala psikotik punya arti pada skizofrenia.
3. Tanda dan Gejala Skizofrenia
Tanda dan gejala skizofrenia menurut Maslim (2000 : 46)
a. Though echo : isi pikiran dirinya yang berulang atau berguna dalam kepalanya dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama namun kualitasnya berbeda
b. Though isertion atau withdrawl : isi pikiran asing dari luar masuk ke dalam pikirannya oelh sesuatu dari luar dirinya.
c. Thought broadcasting : isi pikirnya keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya.
b. Waham dikendalikan (delusion of control), waham dipengaruhi (delsion of influence), waham ketidakberdayaan (delision of passivity), persepsi terhadap mistik (delusional perception).
c. Halusinasi
d. Waham menetap jenis lainnya , yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia biasa.
e. Arus pikir yang terputus atau yang mengalami sisipan, ayng berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan.
f. Perilaku katatonik
g. Gejala-gejala negatif seperti sikap apatis, bicara yang jarang dan respon emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial.
h. Adanya suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam suatu keseluruhan dari beberapa aspek perilaku pribadi, bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, sikap malas, sikap larut dalam diri sendiri, dan penarikan diri secara sosial.
Tanda dan Gejala
a. Reaksi sikap dan tingkah laku yang tidak logis, suka tertawa-tawa, kemudian menangis, sangat irritable atau muah tersinggung sering disertai sendirian dan penuh kemarahan.
b. Terjadi kemundura psikis, kekanak-kanakan, perasaan tumpul dan tidak logis.
c. Pikiran melantur, muka (grimasem) tanpa aa stimulus, halusinasi.
d. Inkoherensi yaitu jalan pikiran yang kacau, tidak dapat dimengerti apa maksudnya, hal ini dapat dilihat dari kata-kata yang diucapkan tidak ada hubungannya satu dengan yang lain.
e. Alam perasaaan (mood affect) yang datar tanpa ekspresi serta yang menunjukan rasa puas diri, atau senyum yang hanya dihayati sendiri.
f. Waham tidak jelas dan tidak sistematis (terpecah-pecah) tidak terorganisir sebagai suatu kekuatan.
Gejala skizofrenia tak mudah dikenali. Tanda awal yang bisa
dideteksi antara lain, mudah curiga, depresi, cemas, tegang, gampang
tersinggung, dan marah. Penderita juga mengalami gangguan tidur, nafsu
makan, kehilangan energi dan motivasi, sulit mengingat dan berkonsentrasi.
Tanda lainnya, penderita merasa asing di lingkungannya, sehingga menarik
diri dari kehidupan sosial.
Gejala skizofrenia baru disadari lingkungan pada saat penderita mengalami
periode akut. Yaitu, ketika timbul gejala positif seperti gaduh dan gelisah.
Penderita tidak bisa tenang, selalu ingin bergerak. Pikirannya kacau dan
bicara melantur, penderita sering berpindah topik pembicaraan yang tak ada
kaitannya. Gejala itu disertai rasa curiga berlebihan.
Selain itu penderita mulai meyakini sesuatu yang tak wajar (delusi atau
waham), misalnya menganggap dirinya titisan Hitler atau Cleopatra, bisa juga
merasa dikejar orang atau binatang. Penderita juga merasa mendengar,
melihat, mencium atau merasakan sesuatu yang sebenarnya tak ada
(halusinasi). Karenanya penderita sering bicara atau tertawa sendiri.
Pada tahap lanjut atau kronis, biasanya penderita menjadi pasif, seperti tak
ada perhatian pada lingkungan, hidup di dunianya sendiri. Penderita tak mau
mengurus dirinya sendiri dan kehilangan perasaan serta emosi. Pada tahap
tertentu, dia menunjukkan gejala negatif seperti depresi dan menarik diri.
IX. ANALISIS FRAGMENTAL
BAUM
Garis yang dibuat S garis kontinue memperlihatkan dorongan afek dinyatakan keluar dalam perilakunya secara konstan. Garis yang ditarik S ke arah yang kurang menentu mencerminkan keragu-raguan orang tersebut dalam perihal tujuan-tujuan pribadinya. S memberikan coretan berulang pada mahkota dan batang pohon menandakan bawaha vitalitas orang yang bersangkutan juga terikat dan terpaku pada suatu penghayatan emosional pada dirinya yang pada umumnya berupa kecemasan sebagai afek yang kuat.
Akar
Akar yang diagambar adalah akar yang terbuka dapat diartikan bahwa segala seuatu masuk tanpa disaring. Struktur dorongan yang tergambar adalah tidak selektif dalam menerima impuls, struktur kepribadian sangatn lemah mngkin neurasthenis, merasa diri kurang mampu namun memiliki ambisi yang besar.
Batang
Pangkal batang lebar dari kiri dan kanan dapat diartikan adanya hambatan ke belakang dan kemuka, rasa terhambat secara menyeluruh. Artinya melihta ke belakang taku dan melihat ke depan juga takut. Biasanya prestasi di sekolah kurang baik tapi belum tentu anak yang bersangkutan itu bodoh tetapi adanya hambatan emosional. Terdapat bayangan di bagian kiri dan kanan pada batang menunjukan adanya hambatan pada situasi masa lampau dan masa depan. Menggambar sebuah lubang besar ditengah batang emandakan perkembangan S terhambat.
Mahkota
Bentuk mahkota seperti payung tertutup menandakan adanya kebutuhan akan perasaan aman dan kebutuhan besar akan perlindungan. Bentuk mahkota diberi coretan coretan berkesan bahwa orang yang impulsif, tidak searah dalam pernyataannya, gelisah, dan dengan penghayatan jiwa yang setipa kali diubah serta emosi yang selalu berubah-ubah.
DAM
Gambar pertama yang digambar S adalah laki-laki, namunjika dilihat dengan seksama S menggambar orang tersebut seperti robot karena adanya garis-garis yang terlihat seperti sendi-sendi ada kemungkinan penderita skizofrenik. Kedua gambar yang digambar S tipe body narcissist dengan pameran kekuatan otot lebih sesuai denan tipe kepribadian skizoid, sibuk dengan diri sendiridan introvert. Secara seksual ia tidakmendapatkan kepuasan benar-benra dalam hubungan sosial dan memilih fantasi.
Adanya indikasi anatomis penggambaran bagian tubuh melalui baju transparan paling sering dihubungkan dengan fantasi seksual terselubung atau tindakan seseorang yang menyimpang pada subjek lak-laki yang terus terikat impuls seksual yang infantil.
X. GAMBARAN PATOLOGIS
S dibesarkan dalam pola asuh yang diabaiakan dan tidak adanya aturan dirumahnya sehingga S tumbuh menjadi seseorang yang tidak tahu aturan dan tidak disiplin dan tidak dapat bertanggung jawab. S merupakan anak yang broken home sehingga S kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya.
S memiliki gangguan yang tidak wajar merasa ingin bunuh diri ketika S SMP dikarenakan perasaa depresi dari dirinya. Dari gambar yang dibuat S hampir menunjukan bahwa S memiliki gejala skizofrenia. Dari teori yang ada hampir setiap keluhan yang di paparkan dalam etiologi gangguan masuk kedalam karakteristik seseorang yang menderita gangguan kepribadian skizotipal.
Keluarga S memiliki riwayat gangguan kejiawaan, dikatakan dalam teori skisotipal juga merupakan penyakit yang diturunkan oleh ibu kepada anaknya. Sehingga ada kemungkinan S menderita skizofrenia atau ada sedikit psikopat karena S dulu suka menyiksa binatang.
XI. KESIMPULAN AKHIR
S mengalami gangguan kejiwaan.
XII. RANCANGAN INTERVENSI
a. Melakukan konsultasi sesegera mungkin kepada psikolog


















































Tidak ada komentar:
Posting Komentar